MATRA

by Didit IHS

Weenapad, 20 Maret 2008

Pagi itu si Matra memandang luasnya cakrawala di hadapannya, di atas Erasmus Brug yang terkenal itu. Ternyata……., cakrawala itu luas, bukan hanya benaknya saja yang dia pikir luas dan membuatnya melayang-layang dalam aspek empat dimensinya. Saat itu, dia berpikir, sudah enam bulan waktu berlalu. Waktu yang saat itu adalah future, sekarang sudah lalu dan tidak kembali ke saat itu. Dia baru sadar…kenapa sekarang adalah present dalam English. Sekarang adalah hadiah baginya untuk menikmati waktu, untuk membuatnya berguna dalam kehidupannya. Hmmmmm….. “Al Asr” demi waktu…itupun membuatnya sadar mengapa waktupun ada dalam Al Qur’an yang diyakininya….bahwa waktu selalu berlalu.

Saat itu angin makin menusuk walau waktu menunjukkan lunch time, sementara sang surya tetap ceria mengiringi lamunannya. Dia berpikir, mengapa masih banyak violence? Apa yang dicari? Apa mereka tidak menghargai waktu mereka? Saat itulah lapar menyergapnya, dia melihat jam di pergelangan tangannya, oups…12 siang, itulah mengapa cacing-cacing perutnya menyanyikan lagu koor kebangsaan mereka….Saat itu pula dia teringat satu hal, angka 12 yang lain, subhanallah….Nabi Muhammad SAW lahir pada 12 Rabi’ul Awal di tahun Fil atau 571 Masehi. Apa yang harus diperbuatnya?

Tak jadi dia pergi mencari shoarma! Dia sering mendengar berbagai macam kajian tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan saat maulid tersebut. Makin keras dia berpikir, makin keras pula lapar yang dirasanya. Seolah ada dua kekuatan yang beradu, antara lapar dan berpikir, antara berpikir dan lapar. Itulah dunia, ada yang pro dan ada yang kontra, ada yin ada yang, ada hitam ada putih, ada polos ada pelangi, ada gula ada semut…..dan banyak lagi ada-ada yang lain. Oups,…….., ada dua sisi juga di antara sisi-sisi bruge Erasmus, sisi kanan – sisi kiri. Namun ada keharmonisan di antara keduanya. Ada ’jembatan’ di antaranya……saling memberi dan saling menerima. Terlepas dari semua, hal itu membuatnya sadar, kehadiran Nabi Muhammad SAW dan Islam adalah rahmatan lil ’alamien, yang menyeimbangkan hidup ini, yang memberi guidant terhadap hidup ini.

Kini dia tidak peduli, yang dia tahu hanya Nabi Muhammad SAW adalah pembimbingnya dan Islam adalah aturannya. Soal perayaan dan tidak itu soal lain, innamal ’amalu bin niyaah, yang penting iman dan islamnya menusuk kalbunya, sedingin angin yang menusuk tulangnya. Dia sadar, semakin keras kekuatan itu beradu, semakin kencang pula kompor dan apinya, semakin kencang pula tepuk tangan sang penonton di luar arena…..dan ketika waktu dan tenaga tercurah dalam pergulatan, semakin lemah pula keadaan keduanya, dan penontonlah pemenangnya……

Begitulah si Matra, yang baru sekedar mengetahui syahadat dan sholat, namun dia menyimpulkan yang terbaik baginya….. dan kedamaian bagi semua…

Sholallahu ’ala Muhammad, Sholallahu alay wa sallaam, sholallahu ’ala Muhammad …….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: